F @ngikan.yuk Bisnis Kuliner Keluarga Rachel Vennya, Sesukses Jiwa Infuencer-nya Kah? - Shrn's

@ngikan.yuk Bisnis Kuliner Keluarga Rachel Vennya, Sesukses Jiwa Infuencer-nya Kah?

Sumber: akun Instagram @ngikan.yuk

Belum bosan untuk mengulik, aku menjadi penasaran dengan bisnis kuliner yang sedang Rachel Vennya jajakan. Setelah sukses di bisnis Taichan Gorengnya, Okin, sapaan akrab suami Rachel Vennya, merambah bisnis kuliner ke sebuah makanan cepat saji dengan ikan sebagai menu utamanya.

Sumber : google


Hmm, konsepnya menarik. Mengajak warga berpaling dari ayam-ayaman yang sudah terlalu menjamur di mana-mana menuju ikan yang cenderung mendapat stereotip baik dengan kandungan omega baiknya. Ikan sebagai makanan yang cenderung dinilai lebih sehat daripada ayam, yang dengan harga affordable-nya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, dijadikan Okin sebagai salah satu bisnis kuliner yang ia mulai sejak akhir 2019 lalu.

Sumber: akun Instagram @ngikan.yuk

Jujur saja, aku pribadi juga lebih menyukai ikan daripada ayam. Maka dari itu, untuk memuaskan rasa penasaranku, aku pesan lewat grabfood makanan yang sudah memiliki berbagai outlet di beberapa daerah ini.

Karena ini judulnya ngikan, maka yang tertera pada menu ya memang ikan. Nasi dan ikan simpelnya. Dibungkus dengan ala-ala makanan cepat saji pada umumnya, ngikan ini mempunyai berbagai varian sambel sebagai penambah cita rasanya.

Sumber: google

Yap, aku bisa bilang bahwa ini makanan cepat saji dengan kearifan lokal. Bagaimana tidak, dilihat dari packaging-nya yang cenderung seperti makanan cepat saji (fastfood) yang mana memang pengaruh dari budaya Barat, ngikan tetap berusaha menunjukkan kecintaannya pada tanah air dengan memberikan varian sambel pada menunya. Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia dibungkus dengan ala-ala fastfood tetapi bukan serta-merta putih polos begitu saja.

Mereka menamainya nasi liwet. Aku tahu nasi jenis seperti ini. Tapi mungkin memang kurang ilmunya untuk berusaha mendeskripsikannya. Jadi kira-kiranya begini, ada cabe ijo-ijonya gitu, guys. Jadi enggak nasi putih polosan gitu. Dan ini menurutku hebat karena dia (lagi-lagi) berusaha menunjukkan kecintaannya terhadap tanah air dengan memajukan kuliner nusantara. Hei, bisa kubilang, ini adalah niat baik yang harus diapresiasi karena kuyakin dia yang punya jiwa meng-influence people secara gak langsung bakal memajukan kuliner Nusantara itu sendiri. (semoga kamu paham apa yang aku maksud).

Sumber: google

Ada empat variasi sambel yang dihidangkan. Aku pesan keempatnya. Tapi enggak aku makan sendiri sih (begah cuy bisa-bisa murus-murus kalo aku makan empat-empatnya (cz aku yang notabene enggak terlalu kuat sama sambel)). Ada sambal woku, sambal oseng mercon, sambal matah, dan sambal acar kuning. Aku lupa aku makan yang mana karena begitu pesenan nyampe langsung excited makan aja (karena udah laper juga).

Tapi yang sangat disayangkan sih (menurut aku), dia ngasih catetan varian sambelnya itu pake spidol biasa gitu. Saran aku sih dikasih space di box-nya untuk nulis variannya gitu. Jadi biar lebih rapi dan keliatan profesional aja. But, it's doesn't matter. Bukan masalah besar sih. Cuman opsional aja kok.

Sumber: google


Tapi ini nih yang jadi masalah besarnya ...

Aku makan dua kotak guys (untuk siang dan malam). Dan yang pas siang ini aku makan sambel yang warnanya ijo gitu. Dan enggak seperti yang bertebaran di dunia maya, sambel ini dibungkus pake plastik sambel yang ada zip-nya. Sementara aku ngeliat yang di sosmed itu pake wadah bulet gitu. Oke, gapapa (meskipun takarannya jadi kesannya lebih sedikit gak sih?). Terus aku dapet sambelnya dua bungkus. Kukira emang dua, (tapi ternyata si pegawai salah masukin ke box-nya dua kali) karena pas aku nyobain jugaaa hmm .. gak berasa cuy! Haha, its mean, enggak ada rasanya. Jadi enggak pedes, enggak asin juga, atau pun enggak asem. Jadi kayak hambar gitu lho, guys. Dan sampe aku ngabisin dua plastik zip sambel itu ya tetep aja rasanya. Terus juga sampe aku abisin satu porsi itu pun kayak hmm.. gimana ya, aku bukan orang yang pinter ngomentarin makanan, tapi menurut aku ini tuh kayak kurang cita-rasanya, guys. Kurang berasa. Dan itu juga yang dirasakan sama kakak aku, guys. Jadi kayak makanan lewat aja gitu, lho. Kagak ada sensasi-sensasinya.

Sumber: akun Instagram @ngikan.yuk

Kupikir konsepnya udah bagus, karena ngangkat makanan yang menyehatkan dengan harga yang murah meriah, terus juga pakai nasi liwet dan juga sambel dengan kearifan lokal. Tapi jadi kayak zonk aja gitu ketika lidah lu bekerja dan makanan lewat gitu aja. Hei, ini bisnis makanan atau konsepnya doangan?

Jadi kayak menurut aku, poin utama sebagai bisnis makanan kayak masih kurang nyampe aja. Lah niatnya kan bisnis makanan. Udah pasti yang bisa dimakan dan yang punya cita-rasa dong. Dan orang Indonesia dengan kekayaan cita rasanya udah pasti bakal ngritik makanan ini karena kurang berasa. I mean salah satu varian sambelnya aja. Karena pas aku makan menu lain di malam hari (which is yang warna rada gelap gitu warna sambelnya), itu berasa dan mayan menguras perutku yang enggak terlalu kuat pedes ini (tapi aku suka!)

Over all konsep ini keren banget dan patut diapresiasi (dengan cara membeli dan nyobain dong tentunya!). Bagiku, kesalahan-kesalahan dalam berbisnis itu tentu wajar ada dan pastinya, adanya kritikan adalah bentuk peduli untuk sebuah kemajuan. Yakan? Oke, makasih udah baca sampai akhir, guys. Semoga sedikit kebacotan aku yang kutuangkan dalam tulisan bisa berguna untuk kalian semua. Jadi gimana, kalian udah pernah nyobain @ngikan.yuk belum?{}

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

PageNavi Results No.